Tahap Perkembangan Bahasa Pada Anak
TAHAP PERKEMBANGAN BAHASA
ANAK
0-1minggu
Lahir,
perkembangan bahasa yaitu mulai dari menangis, dan kebanyakan merupakan cara
anak untuk berkomunikasi.
2minggu,
Perkembangan
bahasa yaitu menangisnya mulai berkurang dan mulai memberikan gerak dan isyarat
acak.
6 minggu,
Perkembangan
bahasa yaitu (anak mulai membuat suara seperti “uuhh”), menjerit, berdeguk dan
coos
3 bulan ampai 6 bulan,
Perkembangan
bahasa yaitu membuat vocal konsonan dan mulai mengoceh
6 bulan sampai 9 bulan,
Perkembangan
bahasa pada anak yaitu membuat suara seperti “ as, ah, ba, ba” meniru suara
asidental dan lebih banyak mengulang kta silabel
9 bulan sampai 11 bulan,
Perkembangan
bahasa anak, menunjukan tanda pasti dari pemahaman beberapa kata dan perintah
sederhana, meniru suara deliberasi.
Dan
yang kedua adalah periode linguistik yaitu kata pertama kali diucapkan anak
sebagai titik akhir masa bayi. Kata yang dimaksud adalah sebagai berikut ini.
Kata pertama umumnya terjadi pada usia 10-17
bulan. Kata pertama yang diucapkan biasanya berhubungan langsung dengan
benda atau kegiatan tertentu sebagai bentuk dasar. Misalnya mama, papa, baba,
dan baru kemuadian mempelajari kata abstrak (Benedict, 1979 dalam Dworetzky,
1990)
Tahapan
perkembangan linguistik terbagi menjadi 4 tahapan yaitu,
ü
Tahapan pertama yaitu ucapan satu kata dari usia 1-2 tahun (awal tahun 12 bulan sampai 18 bulan) dan ciri
perkembangannya, anak menggunakan holofrase, kosa kata terdiri dari 3 sampai 6
kata, intonasi kompleks menggunakan kata benda yang luas, dan menggunakan
kosakata yang terdiri dari: 3-50 kata dan anak tidak menunjukan frustasi ketika
tidak memahami
ü
Tahapan kedua yaitu membuat kata-kata dalam frase dari usia 2-3 tahun (sekitar 2 tahun) dan ciri
perkembanganya, anak menggunakan bahasa telegraphic yang terdiri dari 2-3 kata,
Kosakata
yang digunakan terdiri dari 3-50 kata, peningkatan dalam berkomunikasi dan anak
mulai menggunakan percakapan, kadang mempertimbangkan periode paling cepat
dalam perkembangan bahasa, kosakata bertambah setiap hari yakni 200-300 kata,
anak berusaha untuk berkomunikasi dan menunjukan frustasi jika memahami
kemampuan orang lain.
ü
Tahapan ketiga yaitu menggunakan kalimat secara lengkap dari usia 4-6 tahun (sekitar 4-6 tahun) dan ciri
perkembangan, penerapan pengucapan dan tata bahasa, bahasa 1400-1600 kata, anak
mencari cara yang tidak dimengerti, mulai dengan menyesuaikan pengucapan untuk
pendengar informas, perselisihan dengan kawan sebaya dan kata ajakan untuk
bermain lebih sering, susunan kalimat tata bahasa yang benar.
ü
Tahapan keempat yaitu menggunakan bahasa secara simbolik (membaca dan menulis)
dari usia 6-8 tahun,
mrnggunakan bahasa yang lebih kompleks jumlah kata-kata perkalimat 7 atau 6
kata, kosa kata untuk bahasa lisab 3000 kata, dan lebih menggunakan kata kerja
yang dibendakan.
A.
PENGERTIAN BAHASA
Bahasa merupakan
kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini, tercakup
semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam
bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian, seperti
dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, dan mimik muka.
Bahasa merupakan
faktor hakiki yang membedakan manusia dengan hewan. Bahasa merupakan anugerah
dari Allah SWT, yang dengannya manusia dapat mengenal atau memahami dirinya,
sesama manusia, alam, dan penciptanya serta mampu memposisikan dirinya sebagai
makhluk berbudaya dan mengembangkan dirinya.
Bahasa sangat erat
kaitannya dengan perkembangan berpikir individu. Perkembangan pikiran individu
tampak dalam perkembangan bahasanya yaitu kemampuan membentuk pengertian,
menyusun pendapat, dan menarik kesimpulan.
Perkembagan pikiran
itu dimulai pada usia 1-6 tahun, yaitu pada saat anak dapat menyusun kalimat 2
atau 3 kata. Laju perkembangan itu sebagai berikut.
a.
Usia 1, 6 tahun, anak dapat menyusun pendapat positif, seperti : “bapak makan”.
b.
Usia 2, 6 tahun, anak dapat menyusun pendapat negative (menyangkal), seperti
“bapak tidak makan”.
c.
Pada usia selanjutnya, anak dapat menyusun pendapat :
1.
Kritikan : “ini tidak boleh, ini tidak baik”.
2.
Keragu-raguan : “barangkali”, “mungkin”, “bisa jadi”. Ini terjadi apabila anak
sudah menyadari akan kemungkinan kekhilafannya.
3.
Menarik kesimpulan analogi, seperti : anak melihat ayahnya tidur karena sakit,
pada waktu lain anak melihat ibunya tidur, dia mengatakan bahwa “ibu tidur
karena sakit”.[1][1]
B.
PERKEMBANGAN BERBAHASA ANAK USIA 6-12 TAHUN
Dengan meluasnya
cakrawala sosial anak-anak, anak menemukan bahwa berbicara merupakan sarana
penting untuk memperoleh tempat di dalam kelompok. Hal ini membuat dorongan
yang kuat untuk berbicara dengan baik. Anak juga mendapatkan bahwa bentuk-bentuk
komunikasi yang sederhana seperti menangis dan gerak isyarat, secara sosial
tidak diterima. Hal ini menambah dorongan untuk memperbaiki kemampuannya
berbicara. Yang paling penting, anak mengetahui bahwa inti komunikasi adalah
bahwa ia mampu mengerti apa yang dikatakan orang lain. Kalau anak tidak
mengerti apa yang dikatakan orang lain, tidak saja bahwa ia tidak dapat
berkomunikasi, tetapi juga lebih parah lagi ia cenderung mengatakan sesuatu
yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang dibicarakan oleh teman-teman
sehingga ia tidak diterima dalam kelompok.[2][2]
Belajar bahasa yang
sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia 6-7 tahun, disaat anak mulai
bersekolah. Jadi, perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan
alat berkomunikasi, baik alat komunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun
menggunakan tanda-tanda isyarat. Mampu dan menguasai alat komunikasi disini
diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami oleh orang
lain.[3][3]
Periode prasekolah
merupakan waktu untuk mempelajari aturan tata bahasa transformasional
(transformational grammar) yang memungkinkan mereka mengubah kalimat deklaratif
menjadi kalimat dengan jenis lain seperti kalimat tanya, negasi,imperative,
anak kalimat atau kalimat majemuk. Ketika memasuki sekolah, anak mempelajari
banyak aturan sintaksis dari bahasa mereka dan dapat menghasilkan berbagai
variasi pesaan seperti layaknya orang dewasa. Bahasa anak pada usia ini juga
bertambah majemuk karena mereka lebih tertarik dengan makna dan hubungan
kontras atau lawan kata. Anak prasekolah juga mulai memahami berbagai pelajaran
pragmatic seperti menyesuaikan pesan mereka dengan kemampuan pendengar dalam
memahami sesuatu jika mereka ingin dimengerti. Kemampuan untuk menghasilkan
pesan verbal, mengenali pesan yang tidak jelas tersebut (referential
communication skill) telah berkembang baik, meskipun mereka masih baru dapat
mendeteksi pesan yang tidak informative dan baru belajar untuk menanyakan
klarifikasi.[4][4]
Usia sekolah dasar
merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai
perbendaharaan kata (vocabulary). Pada awal masa ini, anak sudah menguasai
sekitar 25.000 kata, dan pada masa akhir (usia 11-12 tahun) telah dapat
menguasai sekitar 50.000 kata. Dengan dikuasainya keterampilan membaca dan
berkomunikasi dengan orang lain, anak sudah gemar membaca atau mendengarkan
cerita yang bersifat kritis (tentang perjalanan/petualangan, riwayat para
pahlawan, dsb). Pada masa ini tingkat berpikir anak sudah lebih maju, dia
banyak menanyakan soal waktu dan sebab akibat. Oleh sebab itu, kata tanya yang
dipergunakannya pun semula hanya “apa”, sekarang sudah diikuti dengan
pertanyaan: “dimana”, “dari mana”, “ke mana”, “mengapa”, dan “bagaimana”.
Di sekolah diberikan
pelajaran bahasa yang dengan sengaja menambah perbendaharaan katanya, mengajar
menyusun struktur kalimat, pribahasa, kesusastraan dan keterampilan mengarang.
Dengan dibekali pelajaran bahasa ini, diharapkan peserta didik dapat menguasai
dan mempergunakannya sebagai alat untuk:
a.
Berkomunikasi dengan orang lain,
b.
Menyatakan isi hatinya (perasaannya),
c.
Memahami keterampilan mengolah informasi yang diterimanya,
d.
Berpikir (menyatakan gagasan atau pendapat),
e.
Mengembangkan kepribadiannya, seperti menyatakan sikap dan keyakinannya.
(perasaannya).[5][5]
Masa kanak-kanak
sampai awal masa remaja merupakan periode untuk memperhalus bahasa (linguistic
refinement). Anak mempelajari pengecualian khusus dalam aturan tata bahasa dan
mulai memahami struktur sintatikal yang paling majemuk. Perbendaharaan bahasa
menjadi lebih meningkat. Anak memiliki pengetahuan tentang morfem yang menyusun
kata-kata (morphological knowledge). Selain itu, anak juga mengembangkan
kemampuan untuk berpikir tentang bahasa dan memberikan komentar dengan kata
sebutan yang merupakan predictor yang baik dalam prestasi membaca. Keterampilan
komunikasi referensial meningkat sejalan dengan semakin berhati-hatinya mereka
untuk mengklarifikasi pesan yang tidak informative yang mereka keluarkan atau
mereka terima. Kesempatan untuk berkomunikasi dengan saudara yang lebih muda
atau teman sebaya memiliki kontribusi terhadap perkembangan keterampilan
berkomunikasi.[6][6]
Pengucapan
Kesalahan dalam
pengucapan kata-kata lebih sedikit pada usia ini daripada sebelumnya. Sebuah
kata baru mungkin ketika pertama kali digunakan, diucapkan dengan tidak tepat,
tetapi setelah beberapa kali mendengar pengucapan yang benar, anak sudah mampu
mengucapkannya secara benar. Namun tidak sedemikian halnya pada anak dari kelompok
sosial yang lebih rendah yang di rumah lebih banyak mendengar kata-kata salah
ucap daripada anak dari lingkungan rumah yang lebih baik , apalagi anak dari
lingkungan rumah yang berbahasa dua.
Pembentukan kalimat
Anak usia enam tahun
harus sudah menguasai hampir semua jenis struktur kalimat. Dari 6 sampai 9 atau
10 tahun, panjang kalimat akan bertambah. Kalimat panjang biasanya tidak
teratur dan terpotong-potong. Berangsur-angsur setelah usia 9 anak mulai
menggunakan kalimat yang lebih singkat dan lebih padat.
Kemajuan dalam pengertian
Dengan meningkatnya
minat dalam keanggotaan kelompok maka meningkat pula minat untuk berkomunikasi
dengan anggota-anggota kelompok. Anak segera mengetahui bahwa komunikasi yang
bermakna tidak dapat dicapai kecuali ia mengerti arti dari apa yang dikatakan
oleh orang orang lain kepadanya. Ini menimbulkan dorongan untuk meningkatkan
pengertiannya.
Peningkatan dalam
pengertian juga dibantu oleh pelatihan konsentrasi di sekolah. Anak segera
mengetahui bahwa ia harus menaruh perhatian terhadap setiap kejadian di
kelas-apa yang dikatakan oleh guru-guru dan teman-teman kalau ingin mengerti
semua pelajaran dengan baik. Di beberapa sekolah, kegagalan berkonsentrasi di
hukum dengan tidak boleh pulang seusai sekolah atau mengerjakan pekerjaan
tambahan.
Seperti halnya dengan
anak yang lebih muda, konsentrasi ditingkatkan dengan mendengarkan radio dan
melihat televise dan hal ini selanjutnya meningkatkan pengertian. Di samping
itu anak yang lebih besar tidak ragu-ragu bertanya tentang kata, ungkapan,
bahkan kalimat yang kurang berarti bagi dirinya.
Mungkin bantuan yang
paling penting untuk meningkatkan pengertian adalah peralihan yang biasanya
terjadi dari pembicaraan egosentris ke pembicaraan sosial. Selama anak
berbicara mengenai diri sendiri, ia selalu berpikir tentang diri sendiri. Ini
menghambat pemberian perhatian terhadap apa yang dikatakan orang lain. Di lain
pihak bilamana pembicaraan menjadi lebih sosial maka ada dorongan yang lebih
besar untuk memperhatikan apa yang dikatakan orang lain sehingga
pengertiansangat meningkat.
Isi pembicaraan
Saat anak mengalihkan
pembicaraan egosentris kepada pembicaraan yang bersifat sosial tidak sepenuhnya
bergantung pada usia tetapi juga bergantung pada kepribadian, banyaknya kontak
sosial, kepuasan yang diperoleh dari kontak sosial dan besarnya kelompok kepada
siapa ia berbicara. Semakin besar kelompok, dengan kondisi-kondisi lain yang
sama, semakin sosiallah sifat pembicaraan. Juga, kalau anak bersama teman-temannya,
pembicaraan umumnya tidak terlampau egosentris dibandingkan bila ia berada
bersama orang-orang dewasa. Banyak orang dewasa mendorong pembicaraan
egosentris pada anak-anak, sedangkan teman-temannya selain tidak mendorong juga
tidak menghiraukan anak yang tetap berbicara tentang dirinya sendiri.
Anak dapat berbicara
mengenai apa saja, tetapi pokok pembicaraan yang digemari bila bercakap-cakap
dengan teman-temannya menjadi pengalamannya sendiri, rumah dan keluarga,
,permainan, olahraga, film, acara televise, aktivitas kelompok, seks, organ
seks dan fungsi-fungsinya, dan tentang keberanian teman sebaya yang
mengakibatkan kecelakaan. Bila anak bersama orang dewasa, biasanya orang dewasa
yang menentukan pokok pembicaraan.
Kalau anak berbicara
tentang dirinya sendiri, biasanya terjadi dalam bentuk bualan. Anak membual
tentang segala hal yang berhubungan dengan diri sendiri seperti kehebatannya
dalam keterampilan dan prestasi. Anak tidak terlampau banyak membual mengenai
apa yang dimiliki seperti apa yang sering dilakukan oleh anak yang lebih muda.
Biasanya, membual sangat umum dilakukan oleh anak antara usia 9 dan 12 tahun,
terutama oleh anak laki-laki.
Anak-anak juga sering
mengkritik dan menertawakan orang. Kritik dapat disampaikan secara terbuka dan
juga diam-diam. Kritik terhadap orang dewasa biasanya diungkapkan dalam bentuk
usulan atau keluhan, seperti “mengapa anda tidak melakukannya begini?” atau
anda tidak memperbolrhkan aku melakukan hal-hal yang dilakukan oleh teman-teman
lain.” Kritik terhadap anak lain sering kali dalam bentuk memaki, menggoda atau
memberi komentar-komentar yang merendahkan.
Berapa banyak
peningkatan dalam isi pembicaraan dan dalam cara mengungkapkan apa yang ingin
dikatakan tidak sepenuhnya bergantung pada kecerdasan, tetapi juga pada tingkat
sosialisasi. Anak yang popular mempunyai keinginan yang kuat untuk memperbaiki
mutu pembicaraan. Dari pengalaman pribadi, anak belajar bahwa kata-kata dapat
menyakitkan hati dan bahwa anak yang popular adalah anak-anak yang
pembicaraannya menambah kegembiraan dalam hubungan dengan teman-teman sebaya.
Banyak bicara
Tahap mengobrol, yang
merupakan ciri dari awal masa kanak-kanak, berangsur-angsur digantikan oleh
pembicaraan yang lebih terkendali dan lebih terseleksi. Anak tidak lagi
berbicara sekedar untuk bicara tanpa memperdulikan apakah ada yang
memperhatikan. Sekarang anak menggunakan pembicaraan sebagai bentuk komunikasi,
bukan sebagai bentuk latihan verbal.
Dengan berjalannya
periode akhir masa kanak-kanak, banyaknya bicara makin lama makin berkurang.
Mula-mula ketika anak masuk sekolah, ia masih sering melakukan obrolah tanpa
arti yang banyak di lakukan pada tahun-tahun pra sekolah. Namun, anak segera
mengetahui bahwa hal ini tidak lagi diperbolehkan-anak hanya boleh berbicara
kalu diizinkan oleh guru.
Di dalam kelompok
teman-teman sebaya, anak yang lebih besar juga menemukan bahwa berbicara
terus-menerus dapat mengganggu teman-teman dan merupakan cara yang tepat untuk
kehilangan teman. Di samping itu anak menemukan bahwa teman-teman juga ingin
memperoleh kesempatan untuk berbicara dan tidak menyukai anak yang
menguasai pembicaraan.
Beberapa anak bicara
tidak sebanyak yang diinginkan karena dicemooh oleh teman-teman berhubung
“ucapan-ucapan yang lucu,” karena berbahasa dua atau karena isi pembicaraan
bersifat tidak sosial sehingga dimarahi teman-teman. Anak yang lain menemukan
bahwa kalau ia mencoba menguasai pembicaraan maka hal ini akan menyebabkan
penolakan sosial sehingga mereka mengekang keinginan untuk berbicara.
Sepanjang tahun-tahun
akhir masa kanak-kanak, anak perempuan berbicara lebih banyak daripada anak
laki-laki, dan anak dari kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah. Anak
laki-laki mengetahui bahwa terlalu banyak bicara kurang sesuai dengan peran
seks laki-laki sedangkan anak dari kelompok sosial ekonomi lebih rendah takut
ditertawakan karena mutu pembicaraannya buruk.
Secara normal,
menjelang berakhirnya masa kanak-kanak, anak-anak semakin sedikit berbicara.
Ini bukan disebabkan anak takut dikritik atau dicemooh melainkan merupakan
sebagian dari sindroma menarik diri yang merupakan ciri dari masa puber.
C.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANAK DALAM BERBAHASA
Pengaruh lingkungan
yang berbeda antara keluarga, masyarakat, dan sekolah dalam pengembangan
bahasa, akan menyebabkan perbedaan antara anak satu dengan yang lain. Hal ini
ditunjukkan oleh pemilihan dan penggunaan kosa kata sesuai dengan tingkat
sosial keluarganya. Keluarga dari masyarakat lapisan berpendidikan rendah atau
buta huruf, akan banyak menggunakan bahasa pasar, bahasa sembarangan, dengan
istilah yang “kasar”. Masyarakat terdidik yang pada umumnya memiliki satus
sosial yang lebih baik, akan menggunakan istilah-istilah yang lebih efektif,
dan umumnya anak-anak remajanya juga berbahasa secara lebih baik.[7][8]
Perkembangan bahasa
dipengaruhi oleh faktor-faktor kesehatan, inteligensi, status sosial ekonomi,
jenis kelamin, dan hubungan keluarga.
1. Faktor
Kesehatan. Kesehatan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan
bahasa anak, terutama pada awal kehidupannya. Apabila pada usia dua tahun
pertama, anak mengalami sakit terus-menerus, maka anak tersebut cenderung akan
mengalami kelambatan atau kesulitan dalam perkembangan bahasanya. Oleh karena
itu, untuk memelihara perkembangan bahasa anak secara normal, orang uta perlu
memperhatikan kondisi kesehatan anak. Upaya yang dapat ditempuh adalah dengan
cara memberikan ASI, makanan yang bergizi, memelihara kebersihan tubuh anak
atau secara regular memeriksakan anak ke dokter atau ke puskesmas.
2. Inteligensi.
Perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari tingkat inteligensinya. Anak yang
perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai inteligensi normal. Namun
begitu, tidak semua anak yang mengalami kelambatan perkembangan bahasanya pada
usia awal, dikategorikan sebagai anak yang bodoh.
3. Status
Sosial Ekonomi Keluarga. Beberapa studi tentang hubungan antara
perkembangan bahasa dengan status sosial ekonomi keluarga menunjukkan bahwa
anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan
bahasanya dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga yang lebih baik.
Kondisi ini terjadi mungkin disebabkan oleh perbedaan kecerdasan atau
kesempatan belajar (keluarga miskin diduga kurang memperhatikan perkembangan
bahasa anaknya), atau kedua-duanya.
4. Jenis
Kelamin. Pada tahun pertama usia anak, tidak ada perbedaan dalam vokalisasi
antara pria dengan wanita. Namun mulai usia 2 tahun, anak wanita menunjukkan
perkembangan yang lebih cepat dari anak pria.
5. Hubungan
Keluarga. Hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan
berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama dengan orang tua yag
mengajar, melatih dan memberikan contoh berbahasa kepada anak. Hubungan yang
sehat antara orang tua dengan anak (penuh perhatian dan kasih sayang dari orang
tuanya) memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak
sehat mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan atau kelambatan dalam
perkembangan bahasanya. Hubungan yang tidak sehat itu berupa sikap orangtua
yang keras/kasar, kurang kasing sayang, atau kurang perhatian untuk memberikan
latihan dan contoh dalam berbahasa yang baik kepada anak, maka perkembangan
bahasa anak cenderung akan mengalami stagnasi atau kelainan, seperti: gagap
dalam berbicara, tidak jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takut untuk
mengungkapkan pendapat, dan berkata yang kasar atau tidak sopan.
Komentar
Posting Komentar