Makalah_Kurikulum Pembelajaran Bahasa Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia bersumber
pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar bahasa adalah belajar
berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan
nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia
mengupayakan peningkatan kemampuansiswa untuk berkomunikasi secara lisan dan
tertulis seta menghargai karya cipta bangsa Indonesia. Standar kompetensi mata
pelajaran bahasa Indonesia memberikan akses pada situasi lokal dan global yang
menekankan keterbukaan, kemasadepanan, dan kesejagatan.
Pengajaran Bahasa
Indonesia (MK, 1991) adalah proses mengajar atau mengajarkan Bahasa Indonesia,
memiliki tujuan yaitu siswa mampu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, baik
secara lisan maupun tulisan. Bahasa Indonesia diajarkan kepada siswa dengan
kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara.
Bahasa merupakan sarana untuk saling berkomunikasi, saling
berbagipengalaman, saling belajar dari yang lain, serta untuk meningkatkan
pengetahuan intelektual dan kesusassteraan merupakan salah satu sarana untuk
menuju pemahaman tersebut.
Bukan itu saja, berikut ini akan di jelaskan mengenai kurikulum pembelajaran bahasa indonesia di kelas rendah, hakikat pembelajaran
bahasa indonesia di kelas rendah, dll.
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimanakah Kurikulum
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah?
2.
Apasajakah Pengajaran Bahasa
Indonesia di Kelas Rendah?
3.
Seperti Apakah Pelaksanaan
Pengajaran Bahasa Indonesia di SD khususnya kelas 2?
4.
Apasajakah Teknik pengajaran
Bahasa Indonesia di kelas rendah?
5.
Bagaimanakah Standar
Kompetensi Lintas Kurikulum?
6.
Seperti apakah Pengorganisasian
Materi?
7. Apakah Kegunaan Dari Diversifikasi
Kurikulum?
8.
Seperti
Apakah Bacaan Sastra?
9.
Apasajakah
Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah?
C. Tujuan
1.
Mengetahui Bagaimana Kurikulum
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah
2.
Mengetahui Seperti Apa Pengajaran
Bahasa Indonesia di Kelas Rendah
3.
Mengetahui Bagaimana Pelaksanaan
Pengajaran Bahasa Indonesia di SD khususnya kelas 2
4.
Mengetahui Apasaja Teknik
pengajaran Bahasa Indonesia di kelas rendah
5.
Standar Kompetensi Lintas
Kurikulum
6.
Mengetahui Apa Itu Pengorganisasian
Materi
7. Mengetahui Tujuan Dari Diversifikasi
Kurikulum
8. Mengetahui Seperti Apakah Bacaan
Sastra
9.
Mengetahui
Apa Saja Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kurikulum
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah
Mata pelajaran Bahasa Indonesia
diberikan di semua jenjang pendidikan formal. Dengan demikian diperlukan
standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang memadai dan efektif
sebagai alat berkomunikasi, berinteraksi sosial, media pengembangan ilmu dan
alat pemersatu bangsa. Daerah/sekolah dapat secara efektif menjabarkan standar
kompetensi sesuai dengan kebutuhan. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa
Indonesia bersumber pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar bahasa
adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia
dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia
mengupayakan peningkatan kemampuansiswa untuk berkomunikasi secara lisan dan
tertulis seta menghargai karya cipta bangsa Indonesia. Standar kompetensi mata
pelajaran bahasa Indonesia memberikan akses pada situasi lokal dan global yang
menekankan keterbukaan, kemasadepanan, dan kesejagatan. Dengan demikian siswa
menjadi terbuka terhadap beragam informasi dan dapat menyaring yang berguna,
belajar menjadi diri sendiri, dan menyadari akan eksistensi budayanya sehingga
tidak tercabut dari lingkungannya. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa
Indonesia mengupayakan siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan
kemampuan, kebutuhan, minat, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil
karya bangsa sendiri. Pada sisi lain sekolah atau daerah dapat menyusun program
pendidikan sesuai dengan keadaan siswa dan sumber belajar yang tersedia.
B. Pengajaran
Bahasa Indonesia di Kelas Rendah
Pengajaran
Bahasa Indonesia (MK, 1991) adalah proses mengajar atau mengajarkan Bahasa
Indonesia. Tujuan utamanya adalah siswa mampu berkomunikasi dengan bahasa
Indonesia, baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa Indonesia diajarkan kepada
siswa dengan kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara. Dalam
mempelajari Bahasa Indonesia, siswa sudah memiliki bahasa pertama yaitu bahasa
daerah. Oleh karena itu, pengajaran Bahasa Indonesia ini merupakan pengajaran
bahasa kedua setelah bahasa daerah.
Menurut
Bachman memandang bahwa pengajaran bahasa kedua (Rosmana, 2008) adalah
pemberdayaan sejumlah kompetensi siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa
tertentu. Ada 5 kompetensi yang harus diberdayakan dalam diri siswa ;
1.
Kompetensi kebiasaan
2.
Kompetensi kognitif (skemata)
3.
Kompetensi strategi produktif
4.
Kompetensi mekanisme psikofisik
5.
Kompetensi kontekstual
Pengajaran
Bahasa Indonesia yang dilaksanakan di Sekolah Dasar adalah mengajarkan bahasa
Indonesia yang berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Untuk
itu, fungsi pengajaran Bahasa Indonesia, selain untuk meningkatkan kemampuan
komunikasi siswa, ada fungsi lainnya yaitu :
1.
Sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa.
2.
Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan
berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya.
3.
Sarana peningkatan pengetahuan dan pengembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni.
4.
Sarana penyebarluasan penggunaan bahasa Indonesia yang
baik dan benar sesuai dengan konteks untuk berbagai keperluan dan berbagai
masalah.
5.
Sarana pengembangan kemampuan intelektual / penalaran
(Depdiknas, 1994).
Oleh karena
itu, pengajaran Bahasa Indonesia dapat dipandang sebagai upaya mengindonesiakan
anak-anak Indonesia melalui Bahasa Indonesia.
1.
Pengertian
Bahasa
merupakan sarana untuk saling berkomunikasi, saling berbagipengalaman, saling
belajar dari yang lain, serta untuk meningkatkan pengetahuan intelektual dan
kesusassteraan merupakan salah satu sarana untuk menuju pemahaman tersebut.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan
pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa
Indonesia, serta menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan.
2. Fungsi
Standar kompetansi ini disiapkan
dengan mempertimbangkan kedudukan dan fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional dan bahasa negara serta sastra Indonesia sebagai hasil cipta
intelektual produk budaya yang berkonsekuensi pada fungsi mata pelajaran Bahasa
Indonesia sebagai :
a.
Sarana
pembinaan kesatuan dan kesatuan bangsa
b.
Sarana
peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan
pengembangan budaya
c.
Sarana
peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni
d.
Sarana
penyebarluasan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik untuk keperluan menyangkut
berbagai masalah
e.
Sarana
pengembangan penalaran
f.
Sarana
pemahaman beragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusastraan Indonesia.
3.
Tujuan
Secara umum tujuan pembelajaran
Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
a.
Siswa
menghargai dan mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan
(nasional) dan bahasa Negara.
b.
Siswa
memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk makna, dan fungsi, serta menggunakan
dengan tepat dan kreatif untuk bermacammacam tujuan, keperluan dan keadaan.
c.
Siswa
memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan
itelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial.
d.
Siswa
memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis).
e.
Siswa
mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan sastra
Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
4.
Ruang
Lingkup
Ruang lingkup standar kompetensi
mata pelajaran Bahasa Indonesia SD dan MI terdiri dari aspek:
a.
Mendengarkan;
seperti mendengarkan berita, petunjuk, pengumuman, perintah, bunyi atau suara,
bunyi bahasa, lagu, kaset, pesan, penjelasan, laporan, ceramah, khotbah,
pidato, pembicara narasumber, dialog atau percakapan, pengumuman serta perintah
yang didengar dengan memberikan respon secara tepat serta mengapresiasi dan
berekpresi sastra melalui kegiatan mendengarkan hasil sastra berupa dongeng,
cerita anak-anak, cerita rakyat,cerita binatang, puisi anak, syair lagu, pantun
dan menonton drama anak.
b.
Berbicara;
seperti mengungkapkan gagasan dan perasaan; menyampaikan sambutan, dialog,
pesan, pengalaman, suatu proses, menceritakan diri sendiri, teman, keluarga,
masyarakat, benda, tanaman, binatang, pengalaman, gambar tunggal, gambar seri,
kegiatan sehari-hari, peristiwa, tokoh kesukaan/ketidaksukaan, kegemaran,
peraturan, tata tertib, petunjuk dan laporan serta mengapresiasi dan
berekspresi sastra melalui kegiatan melisankan hasil sastra berupa dongeng,
cerita anak-anak, cerita rakyat, cerita binatang, puisi anak, syair lagu,
pantun, dan drama anak
c.
Membaca;
seperti membaca huruf, suku katam kata, kalimat, paragraph, berbagai teks
bacaan, denah; petunjuk, tata tertib, pengumuman, kamus, enslikopedia serta
mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan membaca hasil sastra
berupa dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyar, cerita binatang, puisi anak,
syair lagu, pantun, dan drama anak kompetensi membaca juga diarahkan
menumbuhkan budaya membaca.
d.
Menulis;
seperti menulis karangan naratif dan nonnaratif dengan tulisan rapi dan jelas
dengan memperlihatkan tujuan dan ragam pembaca, pemakaian ejaan dan tanda baca,
dan kosakata yang tepat dengan menggunakan kalimat tunggaldan kalimat majemuk
serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melaluikegiatan menulis hasil sastra
berupa cerita dan puisi. Kompetensi menulis juga diarahkan menumbuhkan
kebiasaan menulis.
C. Pelaksanaan
Pengajaran Bahasa Indonesia di SD khususnya kelas 2
Bahasa
sebagai alat komunikasi digunakan untuk bermacam-macam fungsi sesuai dengan apa
yang ingin disampaikan oleh penutur. Dalam pelaksanaannya, bermacam-macam
fungsi tersebut dapat dipadukan melalui berbagai kegiatan pembelajaran (bermain
peran, percakapan mengenai topic tertentu, menulis karangan, dsb).
Landasan
formal pengajaran Bahasa Indonesia adalah Kurikulum Bahasa Indonesia yang
ditetapkan oleh pemerintah. Dikemukakan dalam Kurikulum (GBPP) Bahasa Indonesia
SD bahwa pengajaran Bahasa Indonesia pada hakikatnya belajar berkomunikasi dan
peningkatan kemampuan siswa dalam berbahasa Indonesia lisan maupun tulisan.
Berdasarkan
penjelasan dalam Kurikulum Bahasa dan Sastra Indonesia SD, bahwa bahan
pembelajaran kebahasaan mencakup lafal, ejaan dan tanda baca, kosakata,
struktur, paragraph, dan wacana. Lafal yang baik dan wajar perlu diperkenalkan
sejak dini, termasuk cara pengucapan yang jelas dan intonasi yang wajar sesuai
dengan situasi kebahasaan. Ejaan dan tanda baca diajarkan tahap demi tahap
untuk membiasakan siswa menggunakannya baik untuk kegiatan membaca meupun
menulis dengan tingkat ketelitian dan pemahaman yang tinggi. Ketelitian di
dalam ejaan dan tanda baca diperlukan di dunia modern. Misalnya untuk memahami
atau menyusun dokumen penting dan penggunaan komputer. Sarana penahapan dan
penyebaran pembelajaran mengenai lafal, intonasi, ejaan, dab tanda baca, untuk
siswa yang berkemampuan lebih tinggi, butir-butir pada tahapan kemudian dapat
diperkenalkan lebih awal. Pembelajaran kosakata, struktur, paragraf, dan wacana
bukan berupa penyajian kaidah atau peristilahan, melainkan berupa kegiatan
memahami dan menggunakan kosakata dan struktur. Jadi, penekanan pembelajaran
kosakata, struktur, paragraf, dan wacana bukan pada pembahasan bagian-bagian
kalimat, paragraf, atau wacana, melainkan pada pengembangan gagasan melalui
hubungan antar kalimat, antar kalimat dalam paragraf, dan antar paragraf
menjadi wacana yang utuh.
Setelah
melaksanakan praktik mengajar siswa kelas 2 di SDN 2 Gunung Karung kecamatan
Maniis, dapat dilihat kemampuan para siswa pad mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Keterampilan yang ditekankan pada pembelajaran Bahasa Indonesia di sini adalah
keterampilan membaca dan menulis. Ketika para siswa membaca sebuah wacana
secara bersama-sama, pada umumnya mereka telah dapat membaca dengan baik denga
suara yang nyaring. Hanya saja lafal dan intonasinya masih harus diperbaiki.
Salah satu contoh mereka belum dapat membedakan bagaimana pelafalan dan
intonasi ketika membacakan kalimat langsung dan tidak langsung. Selain itu juga
keberanian siswa serta keaktifannya dapat dilihat ketika perwakilan siswa
menurut barisan tempat duduk mereka, disuruh untuk maju ke depan kelas untuk
membacakan wacana yang telah ditulis di papan tulis. Bagi siswa yang aktif dan
memiliki keberanian, mereka langsung mau maju ke depan untuk membaca tanpa
harus dituntuk oleh guru. Suara siswa tersebut ketika membaca juga terdengar
lantang dan keras. Tapi sebaliknya, bagi siswa yang pasif dan kurang memiliki
keberanian serta percaya diri, mereka harus ditunjuk terlebih dahulu agar mau
membaca di depan kelas. Bahkan siswa seperti ini terkadang harus dirayu dulu
agar mau membaca di depan kelas. Siswa yang pasif cenderung lebih pelan
suaranya ketika membaca. Hal ini disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri
yang mereka miliki.
Di sinilah
peran guru untuk memotivasi siswa agar dapat berperilaku aktif dalam kegiatan
belajar. Buat siswa senyaman mungkin ketika guru memberikan materi pelajaran.
Jangan sekali-kali mengatakan SALAH jika
siswa melakukan suatu kesalahan. Guru dapat mengatakan “jawabannya kurang
tepat” atau kata-kata yang lainnya agar tidak melemahkan keinginan dan semangat
siswa untuk menjawab suatu pertanyaan yang diajukan guru. Sehingga siswa dapat
menggali lagi pengetahuan mereka sampai mereka dapat menjawab pertanyaan
tersebut dengan tepat.
Dalam hal
keterampilan menulis, yaitu penulisan kalimat berupa sebuah wacana yang utuh,
siswa kelas 2 SDN 2 Gunung Karung, masih perlu diperbaiki lagi dalam hal
penggunaan tanda baca dan penulisan hurup kapital. Kebanyakan dari mereka belum
dapat membiasakan menulis kalimat langsung dengan menggunakan tanda petik (“).
Sehingga mereka tidak dapat membedakan kalimat langsung dan tidak langsung.
Kalimat yang seharusnya menggunakan tanda baca koma, tanda seru, dan tanda
tanya belum dapat mereka biasakan untuk menuliskannya. Kebanyakan dari mereka
tidak memperhatikan hal tersebut. Padahal hal itu dapat berpengaruh ketika
membacanya.
Penulisan
huruf kapital juga masih banyak yang tidak diperhatikan. Misalnya ketika
terdapat nama hari di tengah-tengah kalimat. Kebanyakan dari mereka
menuliskannya dengan huruf kecil. Begitu juga penulisan nama orang.
Oleh sebab
itu, guru harus sering memperingatkan siswa tentang kesalahan penulisan
tersebut. Sehingga siswa dapat memperbaiki dan membiasakannya sampai
seterusnya.
Perencanaan
atau disebut desain yang disusun di depan kelas. Ada tiga tahapan kegiatan
teknik di depan kelas. Pertama, kegiatan penyajian dan penjelasan bahan
pembelajaran. Kedua, kegiatan latihan yang dilaksanakan oleh siswa dalam rangka
memahami bahan pembelajaran. Ketiga, kegiatan umpan balik untuk menentukan arah
kegiatan belajar berikutnya sekaligus merupakan pengulangan atau lanjutan
kegiatan belajar berikutnya.
D. Teknik pengajaran
Bahasa Indonesia di kelas rendah
Setelah
memahami metode pembelajaran bahasa guru juga harus mengetahui teknik-teknik
atau strategi pengajaran yang lazim digunakan. Teknik bersifat prosedural.
Teknik yang baik dijabarkan metode dan serasi dengan pendekatan. Berikut
sejumlah teknik pengajaran bahasa Indonesia yang biasa dipraktikan guru bahasa
Indonesia.
1.
Teknik Ceramah
Pelaksanaan
teknik ceramah dikelas rendah dapat berbentuk cerita kenyataan, dongeng atau
informasi tentang ilmu pengetahuan.
2.
Teknik Tanya Jawab
Teknik tanya
jawab dapat diterapkan pada latihan keterampialn menyimak, membaca, berbicara
dan menulis. Selain guru bertanya pada murid, murid juga dapat bertanya pada
guru.
3.
Teknik Diskusi Kelompok
Teknik ini
dapat dilakukan di kelas rendah dengan bimbingan guru. Peran guru terutama
dalam pemilihan bahan diskusi, pemilihan ketua kelompok dan memotivasi siswa
lainnya agar mau berbicara atau bertanya.
4.
Teknik Pemberian Tugas
Teknik ini
bertujuan agar siswa lebih aktif dalam mendalami pelajaran dan memiliki
keterampilan tertentu, untuk siswa kelas rendah tugas individual seperti
membuat catatan kegiatan harian atau disuruh menghapal puisi atau lagu.
5.
Teknik Bermain Peran
Teknik ini
bertujuan agar siswa menghayati kejadian atau peran seseorang dalam hubungan
sosialnya. Dalam bermain peran siswa dapat mencoba menempatkan diri sebagai
tokoh atau pribadi tertentu, misal: sebagai guru, sopir, dokter, pedagang,
hewan, dan tumbuhan. Setelah itu diharapkan siswa dapat menghargai jasa dan
peranan orang lain, alam dalam kehidupannya.
6.
Teknik Karya Wisata
Teknik ini
dilaksanakan dengan cara membawa langsung siswa kepada obyek yang berkaitan
dengan materi pembelajaran. Misalkan : museum, kebun binatang, tempat pameran
atau tempat karya wisata lainnya.
7.
Teknik Sinektik
Strategi
pengajaran sinektik merupakan susatu strategi untuk menjadikan suatau
masyarakat intelektual yang menyediakan berbagai siswa untuk bertindak kreatif
dan menjelajahi gagasan-gagasan baru dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan alam,
teknologi, bahasa dan seni. Kelebihan teknik ini antara lain:
a.
Strategi ini bermanfaaat untuk mengembangkan
pengertian baru pada diri siswa tenang sesuatu masalah sehingga dia sadar
bagaimana bertingkah laku dalam situasi tertentu.
b.
Strategi ini bermanfaat karena dapat mengembangkan
kejelasan pengertian dan internalisasi pada diri siswa tentang materi baru.
c.
Strategi ini dapat mengmbangkan berpikir kreatif, baik
pada diri siswa maupun pada guru.
d.
Strategi ini dilaksanakan dalam suasana kebebasan
intelektual dan kesamaan martabat antara siswa.
e.
Strategi ini membantu siswa menemukan cara berpikir
baru dalam memecahkan suatu masalah.
E. Standar
Kompetensi Lintas Kurikulum
Standar
kompetensi lintas kurikulum merupakan kecakapan untuk hidup dan belajar
sepanjang hayat yang dibakukan dan harus dicapai oleh siswa melalui pengalaman
belajar.
Standar Kompetensi Lintas Kurikulum
ini meliputi :
1.
Memiliki keyakinan, menyadari serta menjalankan hak
dan kewajiban, saling menghargai dan memberi rasa aman, sesuai dengan agama
yang dianutnya.
2.
Menggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan, dan
mengkomunikasikan gagasan dan informasi, serta untuk beriteraksi dengan orang
lain.
3.
Memilih, memadukan, dan menerapkan konsep-konsep,
teknik-teknik, pola, struktur, dan hubungan
4.
Memilih, mencari, dan menerapkan teknologi dan
informasi yang diperlukan dari berbagai sumber
5.
Memahami dan menghargai lingkungan fisik, makhluk
hidup, dan teknologi, dan menggunakan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai
untuk mengambil keputusan yang tepat
6.
Berpartisipasi, berinteraksi, dan berkontribusi aktif
dalam masyarakat dan budaya global berdasarkan pemahaman konteks budaya,
geografis, dan histories.
7.
Berkreasi dan menghargai karya artistic, budaya dan
intelektual serta menerapkan nilai-nilai leluhur untuk meningkatkan kematangan
pribadi menuju masyarakat beradab.
8.
Berpikir logis, kritis dan lateral dengan
memperhitungkan potensi dan peluang untuk menghadapi berbagai kemungkinan
9.
menunjukkan motivasi dalam belajar, percaya diri,
bekerja mandiri, dan bekerja sama dengan orang lain.
Fungsi utama
sastra adalah sebagai penghalusan budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan
kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan,
imajinasi dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun
tertulis. Siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk, berkomunikasi,
bukan dituntut lebih banyak untuk mengetahui pengetahuan tentang bahasa,
sedangkan pengajaran sastra ditujukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam
menikmati, menghayati dan memahami karya sastra. Pengetahuan tentang sastra
hanyalah sebagai penunjang dalam mengapresiasi karya sastra.Kata menduduki
posisi penting dalam sistem bahasa. Pemakaian kata merupakan hal penting dalam
berbahasa, baik lisan maupun tulisan. Oleh sebab itu,penguasaan kosa kata
seseorang sangat menetukan keberhasilannya dalam berkomunikasi. Pembelajaran
kosakata bertujuan untuk memperkaya perbendaharaan kata siswa. Siswa tidak harus menghafal sejumlah kata, tetapi
yang terpenting dapat menggunakannya di dalam kalimat. Mengenal dan memahami
makna kata merupakan tujuan utama pembelajaran kosakata.
F. Pengorganisasian
Materi
Standar
kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kerangkatentang standar
kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang harus diketahui, dilakukan dan
dimahirkan oleh siswa pada setiap tingkatan. Kerangka ini disajikan dalam lima
komponen utama, yaitu :
1.
Standar kompetensi
2.
Kompetensi dasar
3.
Hasil belajar
4.
Indikator
5.
Materi pokok
Standar
kompetensi mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.
Aspek-aspek tersebut dalam pembelajaran dilaksanakan secara terpadu. Kompetensi
dasar kebahasaan disajikan pada lampiran dokumen ini. Kompetensi ini disajikan secara terpadu dengan
kompetensi dasar yang lainnya dengan menggunakan tema yang sama. Standar
kompetensi, kompetensi dasar, hasil belajar, indikator, dan materi pokok yang
dicantumkan dalam standar kompetensi ini merupakan bahan minimal yang harus
dikuasai siswa. Oleh karena itu, daerah, sekolah, atau guru dapat
mengembangkan, menggabungkan, atau menyesuaikan bahan yang disajikan dengan
situasi dan kondisi setempat.
G. Diversifikasi Kurikulum
Diversifikasi
kurikulum ini ditujukan bagi siswa yang memiliki kemampuan lebih (anak berbakat)
atau di bawah rata-rata (anakberkesulitan belajar dan anak berkebutuhan khusus).
Agar dapat menyelenggarakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak,
kebutuhan anak, emosioanal dan sosial anak; maka kurikulum perlu dimodifikasi
sehingga berbeda dengan kurikulum anak normal. Modifikasi kurikulum menyangkut
empat bidang, yaitu: materi (konten), proses dan metode pembelajaran, kemampuan
(produk) yang diharapkan dari siswa, dan lingkungan belajar. Sebagai contoh,
guru SD Kelas 4dapat memodifikasi pembelajaran menulis (mengarang) melalui metode
kelompok, diskusi, conferencing, inkuiri, CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dan
sebagainya.
H. Bacaan Sastra
Setiap siswa
SD dan MI diperkenalkan jenis- jenis sastra seperti puisi anak, cerita anak,
drama anak, dongeng atau cerita rakyat. Siswa berharap mampu mengapresiasi
karya sastra tersebut. Pembelajaran apresiasi sastra ini harus disesuaikan
dengan kompetensi-kompetensi yang terdapat pada setiap aspek. Pemilihan bahan
ajar untuk kompetensi-kompetensi tersebut dapat dicari pada sumber-sumber yang relevan.
Kegiatannya dapat diitegrasikan dalam pembelajaran menyimak, berbicara, membaca
dan menulis (narasi dan deskripsi).
I. Hakikat Pembelajaran Bahasa
Indonesia di Kelas Rendah
1. Teori Pembelajaran di Kelas Rendah
Karakteristik
anak usia SD yang antaranya lain telah mampu melakukan koordinasi otot-ototnya
sehingga mereka selalu aktif bergerak
melakukan aktivitas baik permainan maupun gerakan-gerakan jasmaniah lainnya,
seperti melompat, lari, memegang pensil, dan sebagainya. Di samping itu
kognitif mereka telah berkembang walaupun masih terbatas pada operasi-operasi
konkrit, dan dalam hal sosial serta emosional mereka masih mendambakan
berlangsungnya pengalaman di lingkungan keluargannya dapat dialami pula di
sekolah, serta pengamatan mereka yang masih bersifat global (Briggs dan Potter
1990), menurutnya perlu diterapkannya model pembelajaran yang relevan dengan
karakteristik tersebut. Model pembelajaran yang diasumsikan cocok bagi murid
kelas rendah(kelas I -II SD) itu adalah model-model pembelajaran yang lebih didasarkan
pada interaksi sosial dan personal (Joyce dan Weil, 1992) atau model-model
interaksi dan transaksi (Brady, 1985) daripada model-model pembelajaran yang
didasarkan pada “behavioral” atau expository”.
Dari
model-model pembelajaran tersebut dapat diidentifikasi berbagai prinsip
pembelajaran sebagai berikut:
a.
Libatkan Murid supaya Aktif Belajar.
Libatkan
murid dalam merumuskan tujuan, merencanakan kegiatan dan merefleksi terhadap efektivitas
belajar mereka.keterampilan ini merupakan dasar yang penting bagi “belajar
seumur hidup”.
Murid
terlibat dalam memecahkan masalah, membuat keputusan, menganalisis, mengevaluasi
dan mengambil tindakan. Jenis belajar seperti ini dapat diakomodasikan dalam
model-model pembelajaran transaksi, interaksi dan perkembangan kognitif.
b.
Dasar pada Perbedaan Individual
Pengalaman
dan minat murid berbeda-beda. Karena itu pembelajaran akan lebih berhasil jika berlangsung
dalam konteks yang berkaitan dengan pengalaman murid dan relevansinya dengan
kehidupan mereka saatini dan akan datang, termasuk perbedaan jenis kelamin.
Jenis pembelajaran ini dapat diakomodasi oleh model perkembangan kognitif,
model transaksi, dan model personal.
c.
Kaitkan Antara Teori dan Praktik
Belajar akan
sangat bermakna jika teori berkaitan dengan praktik dan tujuan-tujuan sosial.
Hubungan pengalaman murid di sekolah dengan kehidupan mereka di luar sekolah. Pembelajaran
jenis ini dapat diakomodasi dalam model transaksional
dan model kognitif.
d.
Kembangkan Komunikasi dan Kerjasama
dalam Belajar
Murid
hendaknya mempunyai kesempatan mengekspresikan dan mendiskusikan ide-ide
mereka, mengenal dan memecahkan masalah melalui kerja sama dalam tim, mengembangkan
keterampilan-keterampilan dalam kegiatan kooperatif, dan berbagi tanggung jawab
untuk menyelesaikan tugas-tugas bersama. Pembelajaran ini dapat diakomodasikan
dalam model sosial, interaksi dan transaksi.
e.
Beranikan Anak dalam Pengambilan
Resiko dan Belajar dari Kesalahan
Murid
belajar secara individual atau dalam kelompokmempunyai kesempatan menerapkan
ide-ide dan keterampilan-keterampilan sendiri, mencoba menyelesaikan
masalah dan belajar dari kesalahan dan juga dari keberhasilan. Jenis
pembelajaran ini dapat diakomodasi dalam model behavior dan model eksposisitorik.
f.
Belajar sambil Berbuat dan Bermain Murid
kelas rendah senang bermain. Briggs dan
Potter (1990) menyatakan bahwa mereka sukar membedakan antara bermain dan
bekerja. Mula-mula anak senang bermain sendiri, tetapi makin bertambah umur mereka mulai
senang bermain secara berpasangan dan berkelompok. Melalui kegiatan bermain dengan alat-alat
permainan dan bermain peran, murid dapat mempelajari konsep, mengembangkan kepercayaan
diri, mengembangkan berpikir, memecahkan masalah, mengembangkan
keterampilan sosial, belajar tentang nilai-nilai sosial, mengembangkan
empati terhadap orang lain dan sebagainya. Jenis pembelajaran ini dapat
diakomodasi melalui model-model pemrosesan informasi.
g.
Sesuaikan Pembelajaran dengan Taraf
Perkembangan Kognitif yang Masih pada Taraf Operasi Konkrit. Pembelajaran adalah
upaya mengkreasi lingkungan dimana struktur kognitif murid dapat muncul dan
berubah. Tujuannya adalah menyediakan pengalaman belajar yang memberi
kesempatan murid praktik dengan operasi-operasi khusus itu. Dalam memperoleh pengalaman belajar
itu murid harus
aktif, menemukan sendiri, dan pengalaman-pengalaman itu sendiri harus induktif.
Dalam mempelajari operasi-operasi baru murid harus diberi kesempatan yang luas
untuk memanipulasi lingkungan. Bagi murid materi yang kita gunakan hendaknya
konkrit, ketimbang lambang/simbol. Misalnya kubus atau tutup botol yang diberi
tulisan akan
lebih berfungsi. Jadi lingkungan harus kaya dalam kacamata pengalaman
sensoris murid.
Dilihat dari
materi yang dipelajari dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu pengetahuan tentang fisik, sosial,
dan logik. Pengetahuan sosial diperoleh melalui balikan dari orang lain dalam
suasana interaksi bebas di lingkungan. Dalam memperoleh pengetahuan fisik dan
logik, guru hendaknya menyiapkan “setting”
yang memungkinkan murid membangun pengetahuan bagi dirinya sendiri melaui
pertanyaan menuntun atau memancing yang dapat merangsang pemikiran dan
eksplorasi
lebih jauh. Dengan demikian model pembelajaran ini dapat diakomodasi melalui
model pengembangan intelek.
2. Model Pembelajaran di Kelas Rendah
Pada bagian
terdahulu telah diidentifikasikan berbagai model pembelajaran yang dapat
mengakomodasi berbagai prinsip atau teori pembelajaran di kelas rendah. Pertemuan
kelompok, bermain peran, penyesuaian pada perbedaan
individu, pemrosesan informasi, pengembangan intelek, model ekspositorik,
transaksi dan kognitif. Model
pembelajaran di sini bisa juga menggunakan model permainan.
a.
Guru Bahasa Indonesia sebagai
Pembimbing
Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam membimbing kelas I dan II antara lain sebagai berikut:
1)
Tingkat Kesiapan anak
Kesiapan
anak yang berasal dari TK tentunya akan lebih matang bila dibandingkan dengan yang
bukan dari TK. Biasanya anak dari TK lebih memiliki dasar kedisiplinan dan
dasar pembiasaan diri yang lebih, meskipun tidak mutlak. Hal ini dapat
diperkuat GBPP dan Kurikulum Pendidikan TK yang bertujuan untuk membantu
kesiapan dalam menghadapi pendidikan selanjutnya. Seharusnya bagi siswa yang
memiliki kesiapan plus mendapat tambahanpengayaan, sedang bagi yang kurang
diadakan pembimbingan tambahan.
2)
Tingkat Pengembangan Anak
Anak usia
dini kecenderungan ingin tahu sangat besar dengan apa yang ia lihat, serta pada
diri anak kelas I dan II memilikipotensi yang besar untuk mengembangkan bakat,
minat dan kemampuannya. Oleh karena itu dorongan dan bimbingan guru sangat
diperlukan untuk memupuk dan membangkitkan bakat, minat dan kemapuan anak tersebut.
Guru harus berperan aktif serta dapat memanfaatkan saat-saat yang tepat untuk
mengoptimalkan perkembangan anak didiknya.
3)
Bahasa Ibu
Bahasa ibu
anak kelas I,II dan III, seharusnya menjadi sumber belajar yang akan digunakan
sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan bahan pelajaran, metode, dan teknik
pembelajaran bahasa Indonesai sebagai bahasa kedua.
b.
Guru sebagai Model
Guru sebagai
cermin bagi anak didik, terutama baik bagi anak usia dini, yang biasanya
dorongan ingin meniru sangat menonjol. Semua tingkah laku guru akan berpengaruh
bagi anak didik, begitu juga tutur kataguru, secara sadar atau tidak akan merupakan
model bagi anak didik. Oleh karena itu, guru kelas I dan II hendaknya santun
dalam berbicara, baik tutur katanya, serta menggunakan bahasa yang baik dan
benar.
c.
Guru sebagai Administrator
Guru sebagai
pengelola segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pengajaran, termasuk
pengadministrasiannya, misal: mencatat jumlah siswa, pekerjaan orang tua,
bagaimana prestasi anak tersebut, kelemahan dan kekurangan masing-masing siswa ,
termasuk perkembangan bahasanya.
d.
Guru Bahasa sebagai Inovator
Guru bahasa
tentunya menyadari, bahwa bahasa yang digunakan dan diajarkan bersifat hidup.
Dengan demikian bahasa senantiasa mengalami perkembangan, misalnya adanya unsur
serapan asing maupun daerah yang merupakan wujud berkembangnya bahasa tersebut.
Disatu sisi perkembangan tersebut berakibat positif terhadap perbendaharaan
kata, di sisi lain menuntut kita lebih kreatif mendorong aktivitas anak didik
untuk terampil menyaring dan memanfaatkan perkembangan tersebut secara tepat. Untuk
mewujudkan pemikiran di atas, guru harus bersifat terbuka menerima bahkan
mengharap saran-saran, aktif dalam kegiatan yang bersifat sebagai ajang bertukar
pikiran kebahasaan dan tertanam rasa bangga dan hormat terhadap perkembangan
dan kedudukan Bahasa Indonesia serta mengimplementasikan secara sungguh-sungguh
dalam pembelajaran. Guru harus menyadari peran bahasa Indonesia sebagai sarana
mempelajari mata pelajaran lain dan sebagai salah satu keterampilan hidup bagi
para siswa.
e.
Guru sebagai Evaluator
Evaluator
berarti orang yang mengadakan kegiatan penilaian, sedangkan evaluasi merupakan
proses pelaksanaan penilaian tersebut. Aktivitas evaluasi oleh guru pada
umumnya terbagi menjadi tiga kategori, yaitu:
a.
evaluasi awal, yang sering kita
sebut analisis kondisi awal, atau evaluasi perencanaan.
b.
evalusi tengah atau evaluasi proses.
Kegiatan mengadakan penilaian ini dilakukan guru pada saat berlangsungnya
kegiatan belajar mengajar. Apakah teknik, metode, sarana dan prasarana kegiatan
siswa telah searah dengan tujuan pembelajaran.
c.
evaluasi akhir atau disebut evaluasi
hasil, merupakan kegiatan penilaian yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan
alat evaluasi berupa tes, dengan tujuan untuk melihat tingkat keberhasilan belajar
siswa terhadap materi yang telah disajikan.
Ketiga
kegiatan evalusi tersebut berlangsung melingkar, secara terus menerus, artinya
hasil evalusi yang lalu akan menjadi pedoman pembelajaran yang akan datang,
begitu seterusnya.
f.
Pendekatan Mengajar
Beberapa
pendekatan yang masih dominan digunakan dalam pembelajaran bahasa, antara lain:
pendekatan komunikatif, pendekatan CBSA, pendekatan integratif dan tematik.
1.
Pendekatan Komunikatif yaitu
pembelajaran bahasa yang mengutamakan kemampuan penggunaan bahasa dalam konteks
komunikasi. Dalam pendekatan ini yang diutamakan adalah tersampaikannya semua
pesan komunikasi. Dalam pembelajaran keterampilan wicara, keterampilan menulis,
materi pembelajaran kebahasaan disusun dan dipilih untuk menunjang tercapainya
komunikasi. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang dengan mudah dipahami bagi
komunikan dan komunikator.
Prinsip-prinsip pengajaran bahasa Indonesia dengan
pendekatan komunikatif sebagai berikut :
a.
Pragmatik, struktur dan kosakata
tidak disajikan sebagai pokok bahasan yang berdiri sendiri, karena kosa kata,
pragmatik dan struktur telah tercakup dalam pengajaran keempat keterampilan
pembelajaran bahasa tersebut.
b.
Pembelajaran bahasa untuk melatih
kepekaan siswa maksudnya, siswa tidak hanya diinformasikan secara lugas atau
langsung tetapi harus mampu juga memahami informasi yang disampaikan secara
tersirat.
c.
Pembelajaran bahasa selain untuk
meningkatkan keterampilan berbahasa, bernalar dan memperluas wawasan juga
mengembangkan kemampuan menghayati keindahan karya sastra, misalnya membaca puisi,
menyanyi, bercerita dan bermain drama.
d.
Pembelajaran bahasa juga diarahkan
untuk membekali siswa menguasai bahasa lisan dan tulis, misalnya mengungkapkan
informasi secara lisan maupun tulis.
2.
Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) adalah cara
belajar yang mengutamakan kadar keterlibatan siswa secara aktif baik fisik
maupun mental. Yang perlu dipahami dalam melaksanakan CBSA antara lain adalah
anak dapat belajar secara kelompok ataupun individual. Anggapan bahwa CBSA
indentik dengan belajar kelompok adalah tidak benar.
3.
Pendekatan Integratif dan Tematik
Pendekatan integratif
adalah pendekatan pembelajaran bahasa yang disajikan secara utuh tidak
terpotong-potong dan bersumber pada satu tema. Maksudnya keempat aspek
pengajaran bahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis serta
kebahasaan yang disampaikan kepada siswa dipadukan secara integrative, misalnya
dengan menggunakan tema “Kesehatan”, keempat aspek kebahasaan bersumber pada
kesatuan tema kesehatan. Selain integratif dalam kebahasanan juga integratif
lintas materi dengan diikat oleh sebuah tema.
Berdasarkan
struktur Kurikulum 2004 dan uraian di atas, pembelajaran di SD relas rendah
harus menggunakan pendekatan tematik.
Pendekatan
ini dianggap cocok diterapkan di SD sebab pendekatan ini memiliki karakteristik
sebagai berikut:
1.
Karakteristik Pengajaran Tematik
a.
Memberikan pengalaman langsung
tentang objek-objek yang riil bagi anak
b.
Menciptakan kegiatan sehingga
anak-anak menggunakansemua pemikirannya
c.
Membantu anak-anak mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan baru yang didasarkan pada hal-hal yang telah
mereka ketahui dan telan dapat mereka lakukan sebelumnya.
d.
Memberikan kegiatan dan
kebiasaan-kebiasaan yang ditujukan untuk mengembangkan semua aspek perkembangan
anak (kognitif,sosial, emosi, fisik, dan sebagainya).
e.
Mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan
siswa untuk bergerak dan melakukan aktivitas fisik, interaksi sosial. Melatih
kemandirian, serta mengembangkan harga diri yang positif (positive self esteem)
f.
Memberikan kesempatan untuk
menggunakan bermain sebagai alat untuk menerjemahkan pengalaman ke dalam suatu
pengertian.
g.
Menghargai perbedaan individu, latar
belakang budaya, pengalaman di dalam keluarga yang dibawa anak ke dalam
kelasnya.
h.
Menemukan cara-cara untuk melibatkan
anggota keluarga anak.
2.
Prinsip-prinsip Pengajaran Tema
a.
Tema harus terkait langsung dengan
pengalaman kehidupan nyata anak-anak dan harus dikembangkan atas dasar
pengetahuan yang telah mereka miliki.
b.
Setiap tema harus menyajikan konsep
untuk diselidiki dan ditemukan oleh anak-anak. Penekanannya, guru harus membantu
anak membangun konsep
c.
yang berhubungan dengan tema.
d.
Setiap tema harus didukung oleh
bahan yang cocok untuk diteliti oleh anak.
e.
Setiap tema merupakan pengikat dari
isi/bahan dan proses belajar.
f.
Informasi yang berkaitan dengan tema
harus disampaikan kepada anak melalui kegiatan pengalaman langsung.
g.
Kegiatan yang berkaitan dengan tema
harus menyajikan berbagai materi kurikulum dan cara-cara yang dapat melibatkan
anak-anak.
h.
Isi atau materi yang sama harus
diberikan lebih dari satu kali (berulang-ulang) dan dikembangkan ke dalam
jenis-jenis kegiatan yangberbeda-beda.
i.
Tema harus memungkinkan untuk
memadukan beberapa bidang
pengembangan yang ada dalam program.
j.
Setiap tema harus dapat diperluas
atau dapat direvisi sesuai dengan minat dan pemahaman yang ditunjukkan
anak-anak. Keuntungan Pengajaran Tema
k.
Meningkatkan perkembangan konsep
anak
l.
Mengintegrasikan isi dan proses
belajar.
m. Anak-anak
memiliki kesempatan untuk menemukan informasi-informasi penting melalui
berbagai cara.
n.
Memungkinkan anak untuk memahami
lebih dari bidang-bidang studi yang dipelajarinya.
o.
Adanya keterlibatan kolektif
mempelajari topik-topik khusus dapat meningkatkan keeratan kelompok.
p.
Mendorong para praktisi untuk
menentukan fokus materi yang ada di sekitar anak .
q.
Memungkinkan guru untuk menyajikan
topik yang cukupluas dan mendalam serta memberikan kesempatan kepada semua anak
dalam mempelajari materi
r.
Dapat diimplementasikan pada
berbagai tingkatan kelas dan kelompok usia yang berbeda.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Standar kompetensi mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca dan
menulis. Aspek-aspek tersebut dalam pembelajaran dilaksanakan secara terpadu.
Kompetensi dasar kebahasaan disajikan pada lampiran dokumen ini. Kompetensi ini
disajikan secara terpadu dengan
kompetensi dasar yang lainnya dengan menggunakan tema yang sama. Standar
kompetensi, kompetensi dasar, hasil belajar, indikator, dan materi pokok yang
dicantumkan dalam standar kompetensi ini merupakan bahan minimal yang harus
dikuasai siswa. Oleh karena itu, daerah, sekolah, atau guru dapat
mengembangkan, menggabungkan, atau menyesuaikan bahan yang disajikan dengan
situasi dan kondisi setempat.
Karakteristik
anak usia SD yang antaranya lain telah mampu melakukan koordinasi otot-ototnya
sehingga mereka selalu aktif bergerak
melakukan aktivitas baik permainan maupun gerakan-gerakan jasmaniah lainnya,
seperti melompat, lari, memegang pensil, dan sebagainya. Di samping itu
kognitif mereka telah berkembang walaupun masih terbatas pada operasi-operasi
konkrit, dan dalam hal sosial serta emosional mereka masih mendambakan
berlangsungnya pengalaman di lingkungan keluargannya dapat dialami pula di
sekolah, serta pengamatan mereka yang masih bersifat global (Briggs dan Potter
1990), menurutnya perlu diterapkannya model pembelajaran yang relevan dengan
karakteristik tersebut. Model pembelajaran yang diasumsikan cocok bagi murid
kelas rendah(kelas I -II SD) itu adalah model-model pembelajaran yang lebih
didasarkan pada interaksi sosial dan personal (Joyce dan Weil, 1992) atau model-model
interaksi dan transaksi (Brady, 1985) daripada model-model pembelajaran yang
didasarkan pada “behavioral” atau expository”.
DAFTAR
PUSTAKA
[Diakses,03 Oktober 2017]
[Diakses,23
September 2017]
Komentar
Posting Komentar